Waspada Sleep Apnea Pada Balita dan Bayi Hambat Perkembangan

Masalah yang sering dialami oleh bayi dan balita salah satunya yaitu masalah tidur. Beberapa masalah tidur yang dapat dialami oleh bayi dan balita di antaranya yaitu sulit tidur, mimpi buruk, terbangun di malam hari, tidur dengan gigi gemertak, bahkan sampai mengalami gangguan pernafasan.

Gangguan pernafasan saat tidur itu sendiri harus diwaspadai. Gangguan pernafasan saat tidur lebih sering disebut dengan sleep apnea. Sleep apnea merupakan keadaan dimana nafas berhenti ketika tidur. Khususnya pada orang dewasa, masalah tidur yang satu ini dapat menyebabkan penyakit jantung, hipertensi, diabetes, bahkan sampai stroke. Sedangkan pada anak-anak, sleep apnea dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangannya.

Tipe Sleep Apnea

Sleep apnea itu sendiri dapat dikategorikan menjadi beberapa kelompok seperti berikut ini:

Obstructive Sleep Apnea (OSA)

Obstructive sleep apnea merupakan masalah tidur yang disebabkan karena adanya penyumbatan pada saluran pernafasan. Obstructive sleep apnea merupakan tipe sleep apnea yang sering terjadi dan dialami.

Obstructive sleep apnea dapat disebabkan oleh berbagai hal yang mana penyebabnya tersebut dapat secara fisik menyumbat saluran pernafasan anak yang mana akibatnya akan menyebabkan anak tidak mendapatkan cukup udara ke paru-parunya. Pada kasus yang terjadi pada anak-anak, pembesaran tonsil dan adenoid biasanya penyebab yang paling sering berperan.

Pada saat otot anak rileks ketika malam hari, pembesaran kelenjar ini dapat menyebabkan sumbatan sementara udara menuju ke paru-paru.

Penyebab terjadinya sumbatan udara yang lainnya yaitu karena obesitas atau berat badan anak yang terlalu gemuk, serta karakteristik wajah ikut menentukan, seperti misalkan bentuk dagu yang membundar ke belakang atau langit-langit anak sumbing. Anak yang memiliki risiko mengalami sleep apnea yaitu anak yang mengalami down syndrom atau keadaan bawaan yang lainya yang dapat mempengaruhi pernafasan atas. Diketahui lebih dari sebagian anak penderita down syndrome mengalami obstructive sleep apnea (OSA).

Central Sleep Apnea

Pada central sleep apnea tidak terjadi sumbatan saluran pernafasan. Akan tetapi keadaan ini disebabkan karena gagalnya otak dalam mengirim sinyal pada otot untuk bernafas.

Mixed Apnea

Sedangkan untuk mixed apnea merupakan masalah tidur yang disebabkan oleh kedua tipe sleep apnea di atas, OSA dan central sleep apnea.

Tanda Sleep Apnea Pada Balita

Untuk mengetahui masalah tidur ini pada bayi dan balita, maka anda dapat memperhatikan beberapa tandanya. Tanda-tanda sleep apnea pada bayi dan balita itu sendiri cukup banyak. Akan tetapi, tanda-tanda yang paling sering ditemukan yaitu mendengkur.

Anak mengalami sulit bernafas dan mendengkur ketika tidur. Bahkan keadaan ini juga sering ditandai dengan terjadinya perhentian nafas selama 10 detik atau lebih ketika anak anda tidur.

Namun, anda jangan terlalu terburu-buru menyatakan bahwa buah hati anda mengalami sleep apnea hanya karena anak anda mendengkur saat tidur. Dengkuran yang disebabkan karena sleep apnea bukanlah dengkuran biasa. Akan tetapi dengkuran yang disertai dengan sulitnya bernafas dan berhentinya nafas selama beberapa detik.

Ketika anak anda bernafas melalui mulut setiap saat, maka anda harus mewaspadainya, baik itu ketika tidur di siang hari atau malam hari. Selain itu, anda juga harus waspadai jika anak anda sering mengalami batuk-batuk ketika tidur malam, tidurnya gelisah atau keluar keringat yang cukup banyak saat tidur.

Apabila anda melihat anak anda menunjukan salah satu tanda atau gabungan dari beberapa tanda yang disertai dengan bangun berulang kali ketika tidur, maka anda patut mencurigainya karena bisa saja itu adalah tanda-tanda sleep apnea.

Untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut dan memastikan apakah anak anda benar-benar mengalami sleep apnea atau tidak yaitu dengan memperhatikan tingkah lakunya ketika siang hari. Anak yang mengalami sleep apnea biasanya akan kurang tidur yang mengakibatkan ia cepat marah, frustasi dan tersinggung. Bahkan anak anda dapat tidur pada waktu yang kurang tepat yang disebabkan karena sering terbangunnya ketika malam hari.

Masalah Kesehatan Anak yang Mengalami Sleep Apnea

Anak yang mengalami sleep apnea memiliki kemungkinan mengalami masalah kesehatan. Dimana masalah kesehatan yang dialaminya berhubungan dengan tonsil atau adenoid. Selain itu, anak anda juga mungkin akan mengalami masalah pada perkembangannya apabila ia tidak mendapatkan waktu tidur yang cukup, karena si kecil tidak mendapatkan hormon pertumbuhan yang dikeluarkan ketika malam hari. Apabila si kecil berjuang untuk bernafas ketika malam hari, maka ia tidak akan berkembang dengan tepat.

Waktu tidur sangat penting untuk anak. Penting bagi anak untuk mendapatkan waktu tidur yang cukup. Apabila anak kurang tidur ia akan cenderung rewel ketika melawan rasa kantuk yang dialaminya. Efek samping yang dialami oleh anak karena kurang tidur dapat berpengaruh pada banyak hal seperti berikut:

Fisik

Hormon pertumbuhan banyak dikeluarkan saat tidur, sehingga ketika anak kurang tidur karena sleep apnea dapat mengakibatkan pertumbuhan fisik anak menjadi terganggu.

Kognitif

Tidur mimpi memiliki peran penting terhadap perkembangan kognitif dan emosional anak. Pada saat tidur dan anak bermimpi, maka kemampuan otaknya akan berkembang. Tidur mimpi dapat ditandai dengan gerakan cepat pada bola mata. Ketika anak mengalami sleep apnea, maka perkembangan otak anak akan menjadi terganggu. Bahkan potensi yang seharusnya berkembang tidak akan dialami anak.

Gerak

Keadaan kurang tidur pada anak juga dapat menyebabkan terganggunya perkembangan saraf dan otot anak. Jika anak mengalami gangguan tidur, gerak motorik kasar akan berkembang lebih dibandingkan dengan gerak motorik halusnya.

Emosional dan Mental

Ketika anak kurang tidur maka ia akan mudah rewel. Akibatnya anak tidak akan mendengarkan apa yang dikatakan oleh orangtuanya.

Apa yang Harus Dilakukan Untuk Mengatasi Sleep Apnea Pada Anak?

Ketika anda curiga anak anda mengalami sleep apnea, maka langkah tepat yang dapat anda lakukan yaitu berkonsultasi dengan dokter. Dokter mungkin akan mencari tahu kebiasaan tidur anak dan melakukan pemeriksaan pada saluran pernafasannya. Apabila penyebab keadaan ini diketahui karena berat badan atau alergi, maka dokter mungkin akan merujuk ke dokter spesialis yang bersangkutan.
Untuk mendiagnosa sleep apnea, biasanya tes yang dilakukan disebut dengan polysomnogram. Tes ini dapat memonitor gelombang otak, pernafasan, gerakan mata, kadar oksigen dalam darah, dengkuran dan suara nafas saat tidur.

Sleep Apnea Pada Bayi

Selain dialami oleh balita, sleep apnea juga dapat dialami oleh bayi, meskipun kasusnya jarang. Bayi yang mengalami sleep apnea adalah bayi yang lahir kurang bulan atau bayi prematur. Semakin bayi lahir cepat atau kurang bulan, maka kemungkinan mengalami sleep apnea akan semakin tinggi. Keadaan ini disebabkan karena tidak matangnya saraf pusat, perdarahan pada otak, infeksi, cacat lahir, penyakit sistem pernafasan, refluks, adanya ketidakseimbangan kimiawi tubuh, dan masalah pembuluh darah atau jantung.

Tanda Sleep Apnea Pada Bayi

Tanda sleep apnea pada bayi sama dengan tanda sleep apnea pada balita, dimana salah satunya berhenti bernafas. Akan tetapi, khususnya pada bayi berhenti bernafas dapat dialami lebih panjang yakni 20 detik.

Meskipun begitu anda tetap harus ingat, bayi yang usianya di bawah 6 bulan biasanya akan bernafas lebih cepat pada suatu waktu, kemudian akan berubah menjadi lambat dan dilanjutkan berhenti bernafas sampai 15 detik sebelum akhirnya kembali bernafas normal.

Sleep apnea yang terjadi pada bayi cukup fatal akibatnya. Pada saat bayi berhenti bernafas maka kadar oksigen dalam darahnya akan menurun, sedangkan kadar karbondioksida akan meningkat. Yang mana keadaan ini dapat menyebabkan bayi mengalami penurunan drastis pada detak jantung atau yang lebih sering disebut dengan bradycardia.

Leave a reply